Serendipity
Hari ini, bahkan hari yang akan datang, tidak akan lagi terdengar suara-suara bising dari pertikaian antara dua insan. Ya, siapa lagi kalau bukan mereka, suara ayah dan ibu. Entah apa yang ada dipikiran mereka dengan ego yang tinggi satu persatu mereka meninggalkanku, dengan semua kepolosanku pada masa kecil aku dipaksa agar menjadi manusia dewasa di lingkungan yang toxic, seperti daun kering yang jatuh lebih cepat karena tiupan angin, entah ke mana aku harus berarah, tak ada pendamping, tak ada pedoman apalagi tempat mengadu.
Beranjak dewasa aku mulai mengerti apa yang aku alami saat ini dan apa yang aku harus terima dari trauma masa lalu yang telah aku lewati, penyakit-penyakit mental yang ada pada diriku mulai kukenal satu persatu. Membantu seseorang seperti aku adalah sebuah impian, aku ingin menjadi seorang psikolog, usaha yang kulakukan hanya sebatas belajar, tak ada lagi bukan usaha selain itu? Biaya? Bahkan untuk makan pun aku susah payah, sebuah mimpi setinggi langit untuk menjadi profesi yang aku inginkan.
Pagi ini aku mengawali hari seperti biasa, berangkat sekolah dengan berjalan kaki dan melewati jalan sempit yang bahkan sudah bisa dikatakan tidak layak untuk digunakan, dinding-dinding gang yang sudah mulai roboh tak pernah sama sekali aku hiraukan, aku hanya ingin ke sekolah tanpa terlambat. Sepanjang mata memandang, kulihat seorang gelandang paruh baya, aku merasa kasihan melihat gelandang itu. Namun, ketika aku akan memberi sedikit uang kupikir untuk diriku saja sudah susah apalagi jika aku memberikan uangku, lantas aku meneruskan perjalanan untuk kesekolah.
Sepulang sekolah lagi-lagi kutemui gelandangan itu, berbeda dengan tadi pagi, nenek tua itu memandangku dengan tatapan yang lama, nenek itu lantas memanggilku antusias seraya melambaikan tangan nya.
"Dewi.." Ujar nenek itu sambil sumringah.
Aku bingung sebab nama yang disebut gelandang itu bukan namaku.
"Bukan nek, saya Laras," Jawabku dengan langkah yang makin mendekat, kulihat tatapan matanya yang makin kosong seperti orang linglung bahkan aku panggil-panggil saja sudah tidak menjawab.
Selang itu tidak sengaja kulihat dompet lusuh yang terbuka berisikan data diri gelandang itu, dengan ragu aku berkata pelan pada nenek yang sedang terdiam menatap kosong ramainya jalanan, "Izin lihat ya nek,"
Kulihat data diri berupa kartu tersebut yang berisikan nama, tanggal lahir dan yang paling menyorot adalah alamat, kini aku tau nenek ini tinggal di perempatan dekat jalan rumahku, tanpa berpikir panjang kuajak nenek tua ini berjalan bersamaku menuju rumahnya, nenek ini hanya mengikutiku, aku memegang tangannya agar tetap bersama.
Sesampainya dirumah nenek itu, tak lama satpam rumah mewah nan megah itu menghampiriku.
"Nyonya! Nyonya! Lihat siapa yang datang sore ini! Nyonya ibu kembali!" Teriak satpam tersebut bersemangat, keluarlah seorang wanita yang tampak bahagia segera memeluk nenek tersebut.
"Ibu, aku mencari ibu ke mana-mana, aku khawatir dengan keadaan ibu." Aku berdiri melihat nenek dan wanita itu berpelukan, setelah nenek itu masuk, wanita itu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada ku karena mengantarkan ibunya pulang, kuceritakan bagaimana bisa terjadi dan mengatakan bahwa aku tinggal disekitar sini, dan baru kuketahui mengapa aku tidak pernah melihat nenek itu padahal rumahku berdekatan, yang ternyata nenek itu memang sangat dijaga untuk tidak keluar rumah, dikarenakan penyakitnya yang sudah pikun, wanita tersebut takut apabila ibunya hilang seperti saat ini.
Beralih pada suasana rumah, kucoba meluruskan kaki untuk istirahat sejenak, namun tak lama ketukan pintu terdengar, kubuka pintu untuk melihat siapa yang datang saat ini, tak lain ternyata wanita tadi yang aku temui, dia mengajakku untuk berbicara dan mengatakan akan memberikan beasiswa full hingga aku kuliah, bak sebuah mimpi hingga kaki ku tidak terasa untuk melangkah lagi, aku mengucapkan ribuan terima kasih atas hadiah tak terduga yang diberikan nya kepadaku, kini langkahku untuk menjadi psikolog semakin dekat.
Komentar
Posting Komentar